Oleh : Suroto
Ketua asosiasi Kader Sosio Ekonomi Strategis (Akses) dan CEO Induk Koperasi Usaha Rakyat (Inkur)
Poscyber(opini)-Antrian pelamar kerja pagi ini mengular di kantorku. Mereka sudah tahu, dari ribuan pelamar itu hanya akan diterima sepuluh orang saja. Mereka seperti main dadu, mengundi nasib di tengah hidup yang semakin sulit.
Dalam hatiku, kenapa mereka tidak segera bergegas saja membuat usaha sendiri. Walaupun kecil kecilan tapi jadi tuan atas diri sendiri. Jual bubur, bikin gerabah, atau apa sajalah. Mereka toh tahu, gaji yang ditawarkan oleh perusahaan yang akan memeras tenaga dan pikiran, dan dua pertiga hidupnya itu juga palingan tak seberapa.
Seperti diriku. Dari sejak diterima kerja 8 tahun lalu, gajiku tak lebih dari 8 juta saja. Di Jakarta ini hanya habis untuk bayar kos kosan, beli bensin ke kantor, dan bayar angsuran motor yang selalu menunggak. Padahal status jabatanku itu sebagai supervisor. Jauh sekali sih jika diurut ke atas, lima tier untuk sampai ke level manajer.
Kadang aku mikir, kenapa orang orang yang bekerja hasilkan ratusan trilyun keuntungan untuk pemilik perusahaan setahunya ini kita hanya digaji pas pasan untuk sekadar bertahan hadapi blangsaknya hidup di Ibukota. Padahal yang hasilkan keuntungan untuk keluarga pemilik perusahaan kan kita kita juga. Semestinya ya bisa ikutlah rasakan itu keuntunganya.
Siapa yang sebetulnya pertama dulu membuat aturan bahwa pembagian keuntungan perusahaan itu dasarnya adalah pemilik modal saja?. Kenapa yang punya tenaga dan pikiran dicurahkan setiap hari tak berhak atas keuntungan yang dihasilkan?. Pasti orang itu sangat hebat, sehingga semua orang di dunia sampai hari ini meyakininya seperti agama.
Nasibku di ibukota ini kalau tak aku sambung hidup dengan reseleran kecil kecilan barang trifting baju bekas yang aku sempatkan belanja di pasar Senen setiap Sabtu tentu tak bakalan cukup. Karena jualan baju baju bekaslah aku bisa setidaknya mampu bayar kebutuhan lainya seperti sesekali nonton dan minum kopi mahal di cafe cafe di Jakarta sesekali seperti orang orang kaya.
Aku lihat dari kaca nako ruang kantorku, ada anak perempuan yang dari tadi aku rasa sudah mau pingsan. Matanya kedap kedip dan wajahnya sudah layu. Mungkin dia belum sarapan. Aku yakin ketika tiba saat giliranya diwawancara oleh bagian HRD pasti sudah lemas tak berdaya. Pasti karena alasan fisiknya yang lemah juga akan membuat si HRD akan jadikan alasan untuk tidak menerimanya.
Gambaran ekonomi memang sedang suram. Sejak krisis ekonomi melanda dua tahun lalu, koran dan media online isinya berita berita buruk. Satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan tiga anaknya yang masih kecil mengakiri hidupnya dengan meminum racun tikus dan menuliskan pesan di secarik kertas obat nyamuk. Tulisan pendek ” Tolong kuburkan kami sekeluarga.. kami sudah tak sanggup menanggung beban hidup ini lagi. Untuk membeli beras untuk anak anak kami saja sudah tidak bisa…”. Lalu tiga hari lalu ada juga anak SMP yang mati gantung diri karena tidak keturutan membeli smartphone seperti teman temanya.
Hal yang mengagetkan, satu lembaga riset menemukan, sepuluh orang perempuan dewasa dari keluarga miskin di kota kota besar di Indonesia ini, 6 diantaranya terpaksa harus jual diri. Ada yang menerima panggilan ke hotel, kerja di panti pijat plus plus, bahkan langsung mangkal di tempat pelacuran.
Aku keluar mencari udara segar ke halaman kantor. Laporan bulanan sudah kelar aku kerjakan. Rasanya di dalam sangat penat.
Di tengah kondisi ekonomi yang sulit, dua minggu lalu pemerintah selenggarakan Pemilu. Memilih Presiden dan Parlemen. Mereka yang jago calon presidenya kalah emosinya meletup letup. Sementara yang jagonya menang kebanyakan membanggakan diri dan jumawa.
” Capresmu menang karena curang….panitia pemilihan umum hanya boneka….”, celetuk satu tukang parkir yang sedang menata parkiran motor di depan gedung yang ditujukan pada temannya sesama tukang parkir.
” Gak usah gitulah….ya nanti kamu juga dapat jatah makan gratis program presidenku..?? “, balas si tukang parkir satunya.
“Duit darimana ?….kata mas mas mahasiswa yang ngekost di sebelah rumahku itu uang pemerintah gak akan cukup untuk memberi makan gratis…utang negara sudah membengkak….segunung….Katanya untuk bayar angsuran utang dan bunganya harus berutang….”, jawab satu tukang parkir yang sepertinya dia kemarin dukung calon presiden yang kalah.
” Mahasiswa itu kan calon koruptor juga, setelah jadi sarjana kan nanti juga jadi koruptor. Mana ada koruptor seperti kita yang gak sekolah…ngapain percaya begitu saja sama mahasiswa. Terima saja kekalahanmu dan siap siap terima jatah nasi bungkus..susah amat!!!.”.
” Tidak sudi!. Untuk apa makan gratis ? Kayak jaman perang saja…. Makan saja semua jatahku….tak sudi aku..lebih baik mati kelaparan daripada makan uang utang….”, timpal tukang parkir satunya.
” Sudahlah. Jangan bertengkar. Rapikan itu motor di area samping gedung….”, tukas satu tukang parkir yang terlihat lebih senior. Mungkin dia supervisornya, sebab kulihat salah satu tukang parkir muda itu langsung ngeloyor ke samping gedung.
Parkiran kantorku jika musim musim ramai kegiatan memang dikerjasamakan pengelolaanya dengan Ormas yang kuasai area kantor. Ormas ini diketuai seorang preman.
Padat sekali parkiran motor di kantorku. Ratusan motor dari para pencaker, pencari kerja yang menguji peruntungan untuk mengisi lowongan posisi di kantorku. Tapi parkiran ramai bisa juga jadi tambahan rejeki untuk preman dan anak buahnya.
Benar saja perkiraanku. Dari beberapa orang dan termasuk perempuan muda di depanku itu jatuh pingsan dan lalu oleh panitia rekruitmen dan teman temanya diangkut masuk satu ruang untuk ditolong dan disadarkan.
Aku kerja di perusahaan ini sudah delapan tahun lebih. Jabatanku tidak tinggi. Tapi aku sudah punya meja sendiri. Orang yang diberi meja di perusahaan itu cukup bergensi dibandingkan mereka yang kerja sebagai frontliner istilahnya. Tapi akan lebih terhormat lagi jika sudah punya ruangan tertutup sendiri. Kelasnya adalah Kasie, kepala seksi. Kalau sudah kepala seksi di perusahaan ini cukup disegani. Dari sepuluh anak buahnya ada saja yang mencari muka membuat teh atau kopi untuknya walaupun aturanya semua orang membuat minumanya sendiri.
Dalam hati saya, untuk apa membuatkan teh orang orang itu, toh gaji tidak meningkat juga. Kalaupun meningkat 5 persen setahun. Itupun sudah digerus langsung sama kenaikan barang yang pasti langsung menyusul…..jadi ya secara riil gak ada kenaikan. Malahan bisa dibilang mengalami penyusutan. Dalam beberapa tahun terakhir, aku sudah hitung pakai rumus gaji lama dan gaji baru yang aku kalikan dengan indeks harga konsumen. Hasilnya nilai gajiku walaupun naik tapi sejatinya turun 3 persen rata rata setiap tahun dalam 8 tahun ini.
Perusahaan di tempat kerjaku membuka lowongan manajer. General Manager. Sebulan lalu manajer kami meninggal dunia bersama seorang wanita di hotel. Kondisinya sangat mengenaskan. Meninggal dengan mulut berbusa karena over dosis obat kuat.
Rekruitmen katanya dibolehkan dari semua karyawan. Pewawancara terakhir adalah pemilik perusahaan. Aku jadi iseng iseng ikut juga. Pikirku paling tidak untuk mengetes kemampuan lah…atau minimal jadi kenal sama pemilik perusahaan.
Teman temanku satu level tidak ada yang ikut. Mereka bahkan menertawaiku. Mana mungkin jabatan General Manager dapat aku raih.
Pagi ini kantor terasa sepi. Aku masuk lebih awal karena setiap Senin pasti macet. Aku duduk duduk saja sembari menikmati kopi tubruk Kintamani yang aku bawa sendiri dari rumah.
” Selamat pagi Pak Bargowo……selamat ya pak!!!”, kata seorang pegawai cleaning servise di kantorku sembari menunduk nunduk tunjukkan sikap yang berlebihan dan seperti takut menatap wajahku…..Diana namanya, cleaning servise muda yang aku kenal dengan baik. Sikap yang tak pernah aku lihat dari dirinya selama ini. Kalaupun dia menaruh hormat padaku tidak juga pernah dia tunjukkan dengan cara membungkuk mbungkukan badan sampai segitunya.
” Selamat apa??….” tanyaku.
” Maaf pak, saya baru saja membaca pengumuman di papan kantor. Bapak jadi General Manager kantor ini”, jawabnya. Lalu dia buru buru pergi seperti ketakutan malah.
Aku pikir Diana itu pintar juga buat sandiwara. Aku tak menggubrisnya. Aku tetap menikmati kopi sembari mengetik di laptopku. Tak pedulikan omongan Diana.
Tapi satu hal yang mulai aneh. Ketika orang orang mulai masuk ke kantor terjadilah keriuhan yang tak biasa. Semua orang tiba tiba mengarah ke ruanganku. Mereka berbondong datang ke ruang kantorku yang sempit. Mereka berduyun duyun ingin menyalamiku.
Aku tak menyangka…aku diterima jadi General Manajer….aku pikir orang orang di kantor sengaja iseng padaku…lalu aku buru buru pergi ke papan pengumunan kantor untuk memastikanya…..Bargowo, nomor urut 69 dinyatakan diterima sebagai General Manager!!!. Alamak!.
Tiba tiba semua orang ketika sedang ramai di ruanganku menjadi sunyi. Rupanya Pak Sentot, pemilik perusahaan datang ke ruanganku. Sesuatu yang belum pernah terjadi sepanjang aku kerja di kantor ini.
” Selamat ya Mas Bargowo….selamat bekerja. Anda diterima jadi General Manager kami…..”, katanya sembari mengulurkan tangan bersalaman mengucap selamat.
” Eh iya …iya pak”, jawabku setengah ragu dan seperti belum percaya dengan apa yang sedang terjadi.
” Nanti temui saya jam 10 di ruangan saya ya”, jawabnya.
Suasana kantor menjadi sangat heboh setelah dia pergi. Semua orang menyalamiku. Sampai akhirnya jam 10 aku temui Pak Sentot di ruanganya.
” Mas Bargowo…luar biasa anda …selamat…selamat yaa….. Saya senang akhirnya mendapatkan orang yang tepat untuk membawa perusahaan ini ke masa depan….saya yakin ide brilian dan kepemimpinan anda akan membuat perusahaan ini tetap eksis di masa depan. Semakin maju dan berkembang…”, sambutnya begitu saya masuk ke ruangan.
Aku tak menyangka, ternyata wawancaraku terakhir dengan Pak Sentot itu yang menentukan keputusan akhir dari perusahaan ini untuk mengangkat diriku jadi General Manager. Padahal kalau dinalar tentu tak masuk akal karena level jabatan seperti diriku tiba tiba naik jadi General Manager.
Telisik punya telisik ternyata benar saja, jawabanku saat wawancara soal gaji dan ideku untuk perusahaan itu yang tentukan keputusan pengangkatan diriku sebagai General Manajer. Soal tawaran gaji waktu itu aku jawab dengan perlunya perubahan batasan rasio gaji jabatan karyawan dari tertinggi dan terendah di kantor ini yang musti diubah dulu baru aku dapat tentukan besaran gaji justru yang jadi jawaban kunci. Termasuk ideku yang aku sampaikan panjang lebar soal perlunya pembagian saham untuk pekerja sampai level bawah hingga 49 persen justru yang jadi penentu aku diterima sebagai General Manager.
” Mas Bargowo, saya tahu, anda mungkin tak menyangka, tapi andalah orang yang selama ini kami cari cari…sekali lagi selamat ya…., tutupnya. ***


















