Poscyber – Penyidik gabungan Bareskrim Mabes Polri dan Polda Metro Jaya fokuskan pertanyaan soal penukaran Valuta Asing (valas) ke Mantan Ketua KPK, Firli Bahuri saat menjalani pemeriksaan Jum’at ( 1/12)
Pemeriksaan berlangsung 9 jam mulai pukul 9.00 Wib dan berakhir sekitar pukul 19.00 Wib.
“Tersangka diperiksa sebanyak 40 pertanyaan yang di titikberatkan terhadap trasaksipenukaran Valas,” ujar wakil Direktur Tindak Pidana Korupsi Bareskrim Mabes Polri, Kombes Arief Adiharsa kepada wartawan.
Arief menambahkan, selain soal Valas penyidik juga mendalami soal pertemuan Firli dengan Mantan Menteri Pertanian Sahrul Yasin Limpo (SYL) di GOR Tangki Jakarta barat. Ada dugaan, , Firli menerima hadiah atau janji dari SYL.
Soal penahanan Firli usai di periksa sebagai tersangka, Arief menegaskan penahanan Firli belum di perlukan. Arief tidak berkomentar lebih jauh tentang peluang ini meski sejumlah kalangan termasuk mantan komisioner KPK mendesak Polisi untuk segera menahan Firli.
Seperti di beritakan, penetapan Firli sebagai tersangka setelah polisi memeriksa 91 orang saksi termasuk tujuh saksi ahli. Polisi juga menemukan alat bukti berupa dokumen penukaran valas dalam bentuk dolar Amerika dan dolar Singapura dari sejumlah outlet money changer senilai Rp 7,4 miliar lebih.
Terpisah, Firli usai di periksa sebagai tersangka kepada wartawan i bicara soal kariernya di Polri hingga kasus korupsi e-KTP saat KPK dipimpin Agus Rahardjo.
Firli menyinggung perjalanan kariernya di Korps Bhayangkara. Tersangka kasus pemerasan kepada SYL itu mengaku tetap bangga meskipun kini harus mengikuti proses hukum di Polri.
“Saya hadir di Mabes Polri, lembaga yang kita banggakan, lembaga yang sudah membesarkan saya,” kata Firli di Bareskrim Polri, Jumat (1/12).
Firli juga merespons dugaan intervensi Presiden Joko Widodo terhadap Ketua KPK periode 2015-2019 Agus Rahardjo soal penanganan kasus korupsi e-KTP.
“Jangan pernah menjadi pimpinan KPK kalau tidak berani untuk diintervensi, tidak berani untuk melawan tekanan. Rekan-rekan pasti melihat kenapa akhir-akhir ini terjadi, mungkin juga ada tekanan atau lainnya,” ujar Firli. (***/SK)



















