Oleh : Djoko Setijowarno
Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Wakil Ketua Pemberdayaan dan Penguatan Wilayah MTI Pusat
PosCyber (opini) – Angkutan sungai semakin sedikit digunakan untuk angkut penumpang, namun masih banyak digunakan untuk mengangkut logistik. Logistik diperlukan warga yang hidup di sepanjang aliran sungai dan tidak memiliki akses transportasi jalan yang memadai.
Berdasarkan data dari Direktorat Transportasi Sungai, Danau dan Penyeberangan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan (2023), jumlah sungai di Indonesia 2.397, aliran sungai dengan panjang keseluruhan 84.678 km. Transportasi sungai menjadi berkurang dengan makin berkembangnya transportasi jalan yang kian menjanjikan dalam hal kecepatan.
Melihat kondisi moda transportasi sungai saat ini, belum beranjak ke standart tata kelola profesional. Hal itu karena lemahnya penerapan dan pemenuhan standar keselamatan, belum ada keterpaduan dengan moda transportasi lainnya. fasilitas sarana dan prasarana belum memadai serta kurangnya sumber daya manusia yang memiliki kompentensi.
Selain itu, belum ada perubahan tata guna lahan yang bisa berdampak pada kedalaman alur pelayaran. Moda transportasi sungai juga belum mendapat pengawasan keselamatan pelayaran yang maksimal.
Hasil survey angkutan sungai di Sumatera Selatan tahun 2018 yang dilakukan Azis Kasim Djou (Ketua Umum DPP Ikatan Alumni Pendidikan Tinggi Sungai, Danau dan Penyeberangan (IKASDAP), menyebutkan alasan masyarakat enggan menggunakan angkutan, antara lain disebabkan :
1.Tranportasi sungai memakan waktu lebih lama dibanding kendaraan darat.
2.Transporatasi sungai memilki resiko keamanan yang lebih tinggi dibanding transportasi darat.
3.Bahan bakar angkutan sungai ( kapal) dapat mencemari air.
4.Mewujudkan kapal sering dipaksakan namun keberadaannya sering mubazir.
5.Debit air sungai tidak stabil
6.Pemeliharaan sungai tidak dianggarkan karena kebutuhannya besar dan kurang efisien
7.Beberapa rute angkutan sungai yang belakangan hilang dan sebagian sungai lainnya sudah sangat dangkal.
8.Jalan darat lebih lancar daripada lewat sungai selain tidak berombak, jarak tempuh jalan darat lebih dekat dan sudah terlayani oleh angkutan.
Sedangkan alasan masyarakat mau menggunakan angkutan sungai adalah :
1.Sebagai alternatif moda transportasi, akan berdampak pada lingkungan sungai yang terawat.
2. Jalan darat sudah mulai macet dan tidak tertib
3.Dengan memfaatkan sungai sebagai moda Transportasi, sungai tetap terjaga kualitasnya untuk kebutuhan air minum dan kebutuhan rumah tangga lainnya.
4.Moda transportasi sungai sekaligus bisa menjadi kebutuhan rekreasi, sebab sensasi berkendara di sungai lebih menarik ketimbang darat.
5.Pada beberapa tempat moda transportasi sungai dapat memotong jalur jalan sehingga lebih cepat sampai.
6.membangun moda transportasi sungai bisa menciptakan lapangan pekerjaan.
7.Apabila sungai tidak digunakan maka masyarakat tidak akan merasakan manfaat sungai yang banyak dibanding angkutan jalan darat.
8.Moda Transportasi sungai lebih cepat dan murah termasuk untuk kepentingan pariwisata air, rekreasi sekaligus sebagai lokasi budidaya ikan.
9.moda transporatasi sungai sebagai angkutan antar kampung dapat menjadi salah satu potensi pendapatan daerah,
10.Adanya moda transporatasi sungai, bisa mendukung hobi sebagian masyarakat untuk memancing termasuk mempermudah ruang gerak dan efisiensi waktu untuk daerah yang hanya dapat dilalui sungai atau danau.
Keunggulan angkutan sungai
Angkutan sungai memiliki keunggulan, seperti tersedia aliran secara alami. Biaya pengembangan jaringan lebih rendah ( 5 persen hingga 10 persen) dari angkutan jalan dan rel. Biaya pemeliharaan rendah (20 persen) dari jaringan jalan. Keselamatan lebih tinggi dibandingkan angkutan jalan, bahan bakar lebih efisien (3,7 persen) dari angkutan jalan, dampak lingkungan yang lebih rendah (5,38 persen) dari angkutan jalan, biaya angkut lebih ekonomis untuk angkutan barang jarak jauh (2,86 persen) dari angkutan jalan.
Disamping itu, angkutan utama untuk daerah terpencil dengan jaringan jalan yang masih sulit atau mahal untuk dibangun, cocok untuk angkutan wisata, memungkinkan pelayanan dari pintu ke pintu ( door to door service ) mampu mengangkut dengan volume besar, mampu mengangkut secara langsung dari angkutan perairan laut ke perairan daratan dan sebaliknya, angkutan alternatif untuk mengurangi kepadatan dan kerusakan jalan.
Tantangan revitalisasi angkutan sungai
Tantangan merevitaslisasi angkutan sungai bergantung pada kedalaman (fluktuasi air) dan kelebaran alur, rawan terjadinya pendangkalan dan erosi tebing sungai, kecepatan relatif lebih rendah, tingkat reliabilitas kurang terjaga, kurang fleksibel karena jangkauan rendah (catchment area) yang kecil di sepanjang aliran alur saja, aksesibilitas rendah karena terkadang sulit dijangkau dari jalan, ada kecenderungan angkutan untuk kelebihan kapasitas ( over capacity) investasi tinggi untuk kapal baru, tingkat kenyamanan yang rendah untuk angkutan penumpang, budaya yang konservatif dan tradisonal pada operasional penyediaan jkasa angkutan perairan daratat peran kecil (modal share) pada sistem transportasi, dan waktu operasi terbatas karena pada malam hari sulit berlayar dengan sarana bantu navigasi yang terbatas.
Arah pengembangan transportasi sungai
Untuk mengembangkan transportasi Sungai, Direktorat Transportasi Sungai, Danau dan Penyeberangan (2023) menyebutkan, pertama, mendukung isu strategis sektor transportasi dan pembangunan nasional, seperti Kawasan 3 T (Tertinggal, Terdepan dan Terluar), PLBN (Pos Lintas Batas Negara), PSN (Proyek Strategis Nasional), KSPN (Kawasan Strategis Pariwisata Nasional), KI (Kawasan Industri), dan KEK (Kawasan Ekonomi Khusus), serta kawasan pedalaman yang belum tersentuh infrastruktur jalan.
Kedua, mendukung kebijakan pemerintah pusat dan pemerintah daerah terkait pemberlakuan peraturan over dimension over load, sehingga mampu memberikan alternatif solusi dalam pengalihan beban kendaraan terhadap jalan raya.
Ketiga, mewujudkan transportasi yang murah dan ramah lingkungan. Keempat, jaringan pelayanan sungai di alur pelayaran sungai utama untuk menghubungkan pelabuhan dengan wilayah pelayanan dan integrasi dengan moda transportasi lain.
Akses ke pelabuhan sungai kurang mendapat perhatian pemerintah untuk dibenahi, seperti halnya akses ke bandara, pelabuhan laut, terminal bus yang benar-benar sudah banyak yang lebih baik. Penumpang angkutan sungai masih diasumsikan masyarakat menengah ke bawah yang tidak memiliki pilihan lain menggunakan transportasi umum.
Indonesia sebagai negara memiliki luas perairan dua pertiga dari total wilayah Nusantara, perhatian terhadap transportasi perairan masih kurang diperhatikan. Anggaran yang minim menjadi hambatan untuk mengembangkan transportasi Sungai. Mayoritas kehidupan masyarakat di sepanjang aliran sungai termasuk wilayah tertinggal kurang tersentuh pembangunan.
Sesungguhnya, pemerintah tidak hanya memperhatikan moda kereta api, angkutan jalan, angkutan udara, transportasi laut, namun keberadaan angkutan sungai jangan dilupakan. Anggaran pembangunan dan operasional dapat ditingkatkan dengan mengembangkan Direktorat Transportasi Sungai, Danau dan Penyeberangan menjadi Direktorat Jenderal Transportasi Sungai, Danau dan Penyeberangan di Kementerian Perhubungan.***


















