Gala Dinner

Pos opini19 Dilihat

Oleh : Suroto
Penulis Buku ” Koperasi Lawan Tanding Kapitalisme”.

PosCyber (opini) -Aku bukan ahli mata angin. Jadi tak bisa mengarahkan kemana angin bertiup. Jadi tugasku adalah mengikuti gerak semesta. Kemana feelingku berkata, kesanalah langkahku pergi.

Semenjak aku diangkat jadi manajer di perusahaanku, aku memiliki kedekatan yang cukup kuat dengan orang yang tak pernah aku sangka sebelumnya. Diana, staf cleaning servise yang selama ini aku kenal dengan baik di kantorku. Hubunganku bukan soal pekerjaan. Lebih dari itu. Tenyata aku jatuh cinta padanya.

Diana,..orang pertama yang memberiku ucapan selamat atas pengangkatanku sebagai manajer di kantorku pagi itu…dan aku anggap candaan itu. cleaning servise yang manis itu. Aku jatuh hati setengah mati.

Selama satu tahun ini dialah orang pertama yang selalu aku temui di kantor setiap pagi. Selain rajin, dia begitu cekatan setiap aku minta sesuatu padanya. Entah apa yang merasuki jiwaku, dia di mataku begitu cantik dan satu hal lagi…menggairahkan jiwa mudaku.

—-
Sore nanti aku diminta Pak Sentot untuk menghadiri Gala Dinner yang diikuti seluruh eksekutif anak perusahaan di bawah group Satu Nusa. Holding perusahaan kami.

” Pastikan setiap level jabatan ada yang mewakili”, begitu tegas Pak Sentot lewat pesan whaatapp.

Aku mencatatnya dengan bold stabilo merah di buku agendaku. Dalam skala prioritas utama. Desas desusnya sih akan ada perombakan besar struktur perusahaan.

” Saudara-saudara, ini saat yang paling saya nanti. Saya ingin anda meyimaknya dengan sangat serius”, Pak Sentot membuka pidato yang langsung membuat seluruh isi ruang menjadi hening.

” Saya umumkan bahwa mulai hari ini, perusahaan Satu Nusa Group menyatakan dilakukan pembagian saham kepada seluruh karyawan sampai level cleaning servise, sekuriti hingga 51 persen. Untuk itu, seluruh direksi dan komisaris agar tunduk pada aturan pemegang saham mayoritas, adalah karyawan seluruh perusahaan”…

Wowwww!!!!. Seluruh ruangan sontak kaget dan semua langsung tampak girang dan bertepuk tangan riuh. Ada yang loncat tinggi tinggi dan ada yang saling memandang ke sesama temannya karena tertegun tak percaya.Lalu Pak Sentot melanjutkannya.

” Tak hanya itu, sebelum dilakukan pembagian saham saya juga minta agar struktur gaji dimasukkan dalam statuta perusahaan dengan sistem batas rasio gaji tertinggi dan terendah tidak boleh lebih dari lima kali dari gaji terendah….gaji General Manager tidak boleh lebih dari lima kali lipat gaji seorang cleaning servise…”, tegas dia.

Lagi lagi suasana ruangan menjadi gemuruh penuh sorak sorai. Lagi lagi mereka melompat lompat kegirangan. Lalu mulai hening lagi ketika Pak Sentot mulai bicara lagi .

” Saudara saudara….mulai saat ini saya juga ingin umumkan bahwa perusahaan kita menarik diri dari seluruh bisnis yang selama ini merusak lingkungan….kita juga tidak lagi memproduksi barang barang yang membahayakan kesehatan. Semua akan kita rombak total dan kalau perlu dilikuidasi”…

Semua orang langsung tertegun. Mungkin kata likuidasi itu membuat mereka bingung. Apakah itu artinya juga akan ada pemecatan karyawan…

” Tenang saudara saudara….saya nyatakan tidak ada yang perlu resah dengan likuidasi…sebab semua sudah kita siapkan skema penyelesaiannya, semua orang akan tetap bekerja selama perusahaan ini masih ada…senang susah akan kita hadapi bersama….”.

Lagi lagi ruangan jadi makin riuh sorak sorai. Lalu hening lagi ketika Pak Sentot mulai bicara lagi.

“Dengan ini juga saya minta anak saya, anak saya semata wayang untuk maju kedepan. Kesini ke depan ddan duduk disamping saya”, kata Pak Sentot.

Suasana hening tak bergeming. Lalu dari kursi paling belakang berdiri seorang perempuan muda. Berpakaian sangat sederhana. Sebelum melangkah dia menundukkan kepala kepada seluruh hadirin. Dia maju tanpa ragu ragu.Dia lalu melangkah dengan tenang ke depan. Semua orang diam seribu bahasa. Lalu dia duduk di kursi di samping Pak Sentot. Persis di sebelahnya.

” Saudara saudara….”, lanjut Pak Sentot. Suasana sangat sunyi. Suasana semakin terasa haru ketika Pak Sentot terlihat menyeka air matanya dan suaranya seperti tercekat. Lalu dia mencoba untuk melanjutkan pidatonya. “Saudara saudara….bersama ini saya umumkan bahwa anak saya yang bernama Diana Setyani Sentot Harjanto yang duduk disamping saya ini untuk menggantikan posisi saya sebagai pemegang saham perusahaan……”, lanjut Pak Sentot.

Suasana sangat haru. Orang satu ruangan sangat terharu. Bukan karena pergantian pemilik perusahaan seperti biasa terjadi di perusahaan, tapi karena Diana yang selama ini dikenal oleh orang di kantor pusat sebagai Cleaning Servise itu ternyata adalah anak Pak Sentot.

Jantungku juga serasa berhenti mendengarnya. Aku benar benar tak menyangka. Pantasan dia tak pernah mau aku kunjungi rumahnya. Ternyata adalah anak Pak Sentot, pemilik dari perusahaan dimana aku bekerja. Dia adalah putri semata wayangnya.

Sekujur tubuhku terasa lemas. Dunia terasa gelap gulita. Aku tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku, dan orang di kantorku ternyata semua tak pernah membaca seluruh penyamaranya. Dua tahun dia bekerja di kantorku, sebagai staf cleaning servise. Saat itu tak ada yang menduga jika dia adalah anak dari majikan kami semua. Sangat sempurna.

” Saya tahu, saudara saudara mungkin kaget. Kaget karena Diana selama ini adalah menjadi bagian dari level staf paling rendah di perusahaan…dia sendiri yang meminta, saya hanya mengiyakanya…saya minta Diana untuk berikan satu dua patah kata”, kata Pak Sentot memecah keheningan.

” Saudara semua, maafkan saya. Saya tidak ingin membuat kejutan. Tapi ketika ayah saya meminta saya untuk meneruskan perusahaan ini, maka syarat yang harus beliau penuhi adalah mengangkatku sebagai staf cleaning servise. Sungguh saya menikmati pekerjaan saya…tapi saya juga jadi lebih mengenal perusahaan ini. Perusahaan yang tak pernah saya kenal selama saya kuliah di luar negeri. Saya ingin semua orang disini juga menghargai dan menghormati seluruh pekerjaan orang, apapun itu. Kita bersama sama membangun perusahaan ini, tempat bekerja ini. Saya ucapkan terimakasih kepada ayah yang telah menemukan orang yang tepat untuk membawa perusahaan ini ke masa depan, kekasih saya, Bargowo”, tutup Diana.

Semua terdiam. Sangat mengharukan. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *