Versi Teten, Indonesia Sulit Maju Kecuali Dengan Industrialisasi UMKM

Pos Ekonomi48 Dilihat

PosCyber (Jakarta) – Menteri Koperasi dan Usaha, Kecil, Menengah (Menkop UKM) Teten Masduki meragukan lndonesia bisa menjadi negara maju ditahun 2034. Teten beragumen, penyokong perekonomian Indonesia terbesar masih dominasi UMKM yang dalam prakteknya, 96 % masih digarap dalam skala kecil dan tradisional.

Kalau tidak ada upaya untuk melakukan industrialisasi UMKM, Teten memastikan dalam 10 tahun kedepan Indonesia masih belum beranjak dari negara dengan pendapatan menengah.

Dia menjelaskan, Indonesia harus melakukan transformasi di proses produksi UMKM dari cara tradisional dengan tehnologi. Sebab transformasi ke tehnologi adalah bagian penting keterlibatan UMKM dalam hilirisasi industri.

Menurutnya, sekitar 97% lapangan kerja di Indonesia tercipta di sektor UMKM, dari angka 97% itu 96% merupakan usaha skala mikro dengan omzet usaha masih di bawah Rp 2 miliar, usaha tidak produktif, skala ekonomi rumah tangga, dan masih dari sektor informal.

“Bisa nggak 10 tahun lagi ini diganti jadi pekerjaan yang lebih kuat, seperti di sektor industri dan sebagainya. Kita tidak bisa menunggu penciptaan lapangan kerja itu dengan hadirnya investasi besar, industri dari luar datang ke Indonesia, karena sekarang rata-rata pertumbuhan ekonomi kita cuma 5% dimana idealnya 7%. Tapi bagaimana mengindustrialisasikan UMKM,” kata Teten diacara Diskusi Forwakop di Kemenkop UKM, Jakarta akhir pekan lalu.

Dia menegaskan, industrialisasi akan membawa dampak positif yakni meningkatkan pendapatan per kapita.

Sebab dengan industrialisasi UMKM, pelaku usaha tidak lagi menjual keripik skala kecil, namun membuat kripik dengan brand kemasan seperti produk Amerika yang ada kumisnya.

“Nggak apa-apa bikin keripik, tapi skalanya industri, bukan kayak sekarang yang cuma 10-20 kg, karena tidak ada supply bahan bakunya, dan masih iris-iris pakai tangan,” sebut Teten.

Untuk itu, kata Teten, pihaknya tengah membangun rumah-rumah produksi bersama untuk mentransformasi yang sebelumnya menggunakan peralatan sederhana menjadi alat produksi modern.

“Kita bangunkan pabrik-pabrik untuk mengolah sumber-sumber daya kita menjadi produksi jadi atau produk hilir. Kalau ini terus dilanjutkan, kita nanti bisa menghasilkan produk UMKM sekelas industri,” tutur dia. (dik)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *