Vulgar

Pos opini42 Dilihat

Oleh : Saiful Kurnia

Pimpinan Redaksi Poscyber.com

Poscyber.com (opini) – Seminggu lalu pembicaraan dua tokoh dalam video viral lekat ditelinga kita. Pembicaraan sensitif. Pembicaraan yang kalau saya pahami sebagai vulgar untuk dua orang yang ditokohkan.

Di Bogorupdate.com pembicaraan itu jadi topik berseri. Belakangan muncul JA sebagai  salah satu tokoh dalam video itu.

JA pada intinya menyatakan lupa kapan pembicraan itu dibuat. Eks ketua DPRD Kabupaten Bogor itu, meminta semua pihak yang dirugikan bisa datang kepadanya untuk diskusi. Sampai JA menyebut kalau yang ada di video sebagai kelakar atau candaan karena IS lawan bicaranya adalah sesama alumi DPRD Kabupaten Bogor. (18/1/2025).

Menyebut candaan sama dengan menyebut tema dalam pembicaraan ini sebagai sesuatu yang biasa biasa saja, namun ada objek objek yang bisa buat kita terkekeh saat dibahas. Ini arti bebas yang bisa saya simpulkan.

Seperti apa reaksi pasar dengan video ini? Kesimpulan saya berbeda. Tema itu ternyata tidak sedikitpun dianggap candaan. Bahkan serius. Apalagi menyangkut IS yang mantan Bupati Bogor. Sedikitpun tidak membuat orang tertawa saat mendengar video, layaknya IS yang terbahak bahak ditengah pembicaraan.

Sebuah perbincangan dengan salah satu pejabat Pemkab Bogor,  salah satu temen saya begitu detailnya menyebut IS sebagai dalang pembuatan video tersebut. Dan kalau pembicaraan itu sampai ke soal setoran, menurutnya itu ucapan tragis. Diruang ruang dan sudut Kabupaten Bogor tersedot perhatiannya ke masalah pembicaraan dua tokoh, yang pada kesimpulan akhir sangat menyayangkan.

Untuk apa video itu direkam? Pertanyaan ini kerap jadi spekulasi di otak saya. Sebab kalau sekedar halu halu, video ini seperti sengaja direkam dan IS mengarahkan ke topik topik sensitif yang melibatkan tokoh sentral di Kabupaten Bogor.

“Mat Acin” dimunculkan, bak tokoh hitam dalam kisah film kolosal dan tidak berdaya. SW tokoh Partai Birokrat,  dianggap membawa gerbong besar yang berkiblat ke IS. Belakangan tokoh tokoh di Partai Birokrat menyembunyikan identitas berbau IS meski sebenarnya tetap bau dan bisa diendus.

Berikutnya spekulasi politik menjadi jawaban yang setidaknya mendekati pas untuk menjawab. Sementara kalangan menyebut perselisihan abadi antar dua tokoh yang menyebut dan tersebut dalam video, jadi biang keladi. Pertempuran tidak selalu dengan tumpahan darah, dalam politik melawan dengan data menjadi salah satu senjata mengerikan.

Pertarungan abadi dengan meniupkan angin panas kesetiap ruang musuh, jadi keniscayaan. Diposisi itu, IS menjadi belepotan di mata orang yang menikmati video memalukan tersebut.

Sementara tanggapan Bupati Bogor terpilih Rudy Susmanto lumayan menyejukan. Rudy dalam pernyataannya menyebut tidak punya waktu untuk sakit hati menanggapi masalah tersebut.

Saat ini ada kesimpulan yang belum tuntas. Selain belum ada pernyataan dari dua tokoh, narasi yang terbangun dalam video itu tetap menjadi stigma negatif sampai generasi dibawah saya, mungkin.

Hemat saya, politik bisa jadi kompromi. Perseteruan bisa dihindari kalau berpolitik bisa mengeleminir potensi gesekan. Dan saya bisa harap bisa terjadi di Tegar Beriman. Salam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *