Poscyber (Jakarta)- Situasi geopolitik dunia yang belakangan terguncang akibat perang antar negara sudah berimbas ke perekonomian negara besar seperti China dan Amerika.
Sejumlah kalangan termasuk pengamat memperingatkan, ekonomi China yang belakangan terus melemah akan berdampak pada ekonomi Indonesia, salah satu nya karena nilai eksport Indonesia ke China mencapai 20 persen dari total eksport Indonesia ke seluruh dunia
Saat ini China menjadi salah satu negara terdampak dari perekonomian global yang melambat. Ekonomi negara Tirai Bambu itu bahkan di pridiksi hanya akan tumbuh 4,2 persen pada tahun 2024.
“Ekonomi global melambat, hati-hati ekonomi China bahkan diprediksi hanya tumbuh 4,2 persen,” kata Chief Economist Bank Rakyat Indonesia Tbk, Anton Hendranata saat acara Proyeksi Ekonomi Indonesia 2024, Rabu (6/12)
Menurutnya pemulihan ekonomi China diperkirakan masih fragile dan berdampak negatif terhadap perekonomian dunia. Hal ini justru berbeda dengan kondisi perekonomian Amerika Serikat yang relatif kuat pada kuartal III 2023, meskipun tahun depan kemungkinan Amerika Serikat akan mengalami resesi.
“Indonesia situasinya tidak bisa dihindarkan ketika ekonomi global melambat, daya beli konsumen melemah, khususnya kelas menegah ke bawah. Hati-hati terhadap deflasi ekonomi China, kenapa? artinya harga barangnya murah bisa penetrasi harga negara lain termasuk Indonesia, akan menganggu produksi domestik negara,” ucapnya.
Sebelumnya Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Abdurohman mengatakan, pemerintah sedang mewaspadai perekonomian China yang tengah mengalami perlambatan. Hal ini mengingat China merupakan salah satu negara yang punya hubungan kuat dengan Indonesia sebagai mitra dagang.
“Ini juga diperkirakan akan mengalami perlambatan dan ini perlu kita waspadai karena 20 persen ekspor kita ke China,” ujarnya saat seminar Indonesia Economic Outlook 2024 di Jakarta, Selasa (21/11)
Dia menjelaskan perekonomian China terus mengalami perlambatan imbas dari melemahnya sektor properti serta investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) yang menurun. Pelemahan kedua sektor tersebut berdampak signifikan lantaran keduanya menjadi sumber utama mesin utama penggerak ekonomi China.
Kondisi China ini , lanjut Abdurohman, berbeda dengan Amerika Serikat dan Indonesia yang lebih banyak didorong oleh konsumsi.
Perekonomian China lebih banyak didorong oleh investasi. Itu menjadi akar persoalan China karena banyak investasi yang lari ke sektor properti, sementara sektor itu sedang mengalami banyak krisis.
Terpisah Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Ad Interim Erick Thohir mengatakan, investasi China di Indonesia memberikan dampak signifikan. Hal ini terutama di bidang hilirisasi industri yang berimbas pada pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.
“Kami apresiasi peran investor Tiongkok yang telah menjadi industri pionir, meletakkan fondasi dan membawa perubahan signifikan untuk hilirisasi industri dan pemerataan ekonomi di Indonesia,” kata Erick dikutip dari Antara, Selasa (5/12) .
Erick dalam Forum Kemitraan Bisnis Indonesia dan Tiongkok ke-4 di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT) juga menyebut, Forum Kemitraan Bisnis Indonesia-Tiongkok ke-4 digelar sebagai wujud kemitraan strategis komprehensif yang terjalin sejak penyampaian inisiatif 21st Century Maritime Silk Road oleh Presiden Tiongkok Xi Jinping di Jakarta
Erick mengatakan, kemitraan strategis juga menghasilkan sejumlah capaian penting seperti konektivitas infrastruktur, Kereta Cepat Jakarta-Bandung, hilirisasi industri khususnya mineral kritis, serta energi hijau dan transisi energi. (**/dik)



















