Angakatan Laut Israel Tembakan Bom Ke truck Bantuan Pangan, Ribuan Warga Gaza Kelaparan Akut

PosCyber (Timur Tangah) – Perangai bengis tentara Israel terus menjadi ancaman untuk warga Gaza Palestina. Setelah membantai warga sipil hingga 28.000 orang, Zionis berusaha memboikot bantuan pangan ditengah ribuan warga Gaza yang mengungsi dan mulai dihantui kelapaaran.

Al Jazeera melaporkan, 8 polisi Palestina yang mengawal truck bantuan tewas setelah angkatan laut Israel mengarahkan bom kearah iring iringan kendaraan pengangkut bantuan yang semula akan menuju Rafah, Gaza Selatan. Insiden pengeboman ini menyasar salah satu truck dengan muatan penuh. Mengutip pajabat UNWRA dan AS.

Dampaknya, truck bantuan mengalami kerusakan parah dan tidak bisa meneruskan perjalanan. Ulah Israel meninggalkan trauma dan ketakutan.

Berikutnya, jumlah truck bantuan pangan untuk warga Palestina menyusut hingga 40 persen.

Menurut Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), jumlah truk bantuan yang memasuki Gaza sejak kejadian tersebut turun sebanyak empat puluh persen, menyebabkan sedikitnya 500.000 orang menghadapi kelaparan.

Sejak 9 Februari, jumlah rata-rata truk yang masuk ke Gaza setiap hari adalah sekitar 55 truk, sebelumnya mencapai 500 truk masuk membawa barang dan perbekalan sebelum perang.

Serangan Israel berakibat munculnya warga yang chaos. Kondisi diperparah dengan semakin berkurangnya pangan. Polisi Palestina banyak meninggalkan pos mereka hingga rusaknya ketertiban umum.

Pekan lalu, kerumunan orang yang kelaparan merampas truk bantuan kemanusiaan dan memukuli sopirnya, sehingga mendorong Program Pangan Dunia (WFP) untuk membatalkan pengiriman meskipun ada laporan kelaparan yang meningkat, khususnya di Gaza utara, yang terletak paling jauh dari perbatasan Mesir di selatan.

Dikawasan Jaballia, satu keluarga terpaksa memakan batang pohon Kaktus. Kondisi memprihatinkan ini setelah bantuan pangan tidak bisa mememuhi kebutuhan jutaan warga Gaza yang telah kehilangan apapun yang mereka punya. Kelaparan meluas hampir disemua wilayah Gaza.

Menurut ketua UNRWA Philippe Lazzarini, “Terakhir kali UNRWA dapat mengirimkan bantuan makanan ke Gaza utara adalah pada tanggal 23 Januari,” lebih dari satu bulan yang lalu.

Dia menambahkan bahwa seruan untuk mengizinkan distribusi makanan di Gaza “tidak didengarkan” di tengah terus adanya hambatan dari Israel.

Pada hari Jumat, seorang bayi laki-laki Palestina berusia dua bulan meninggal karena kelaparan di Gaza utara, Kantor Berita Shehab melaporkan.

Mahmoud Fattouh meninggal di Rumah Sakit Al-Shifa di Kota Gaza pada hari Jumat.

Rekaman video menunjukkan bayi yang kelaparan itu kesulitan bernapas di ranjang rumah sakit.

“Kami melihat seorang wanita menggendong bayinya sambil berteriak minta tolong. Bayinya yang pucat sepertinya sedang menghembuskan nafas terakhirnya,” kata salah satu paramedis yang membawa bayi tersebut ke rumah sakit dalam video tersebut.

“Kami segera membawanya ke rumah sakit dan dia ditemukan menderita kekurangan gizi akut. Staf medis membawanya ke ICU. Bayi tersebut tidak diberi susu selama berhari-hari, karena susu bayi sama sekali tidak ada di Gaza.”

Pada tanggal 26 Januari, Pengadilan Kriminal Internasional (ICJ) mengeluarkan keputusan sementara yang memerintahkan Israel untuk mengambil semua tindakan untuk mencegah tindakan genosida, termasuk mengambil langkah-langkah segera dan efektif untuk memastikan penyediaan bantuan kemanusiaan kepada warga sipil di Gaza. (**/SK)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *