Dibawah Tekanan Dunia dan warganya Sendiri, Netanyahu Balik “Mencaci Maki” Afrika Selatan

PosCyber ( Timur Tengah) – Komunitas dunia terus menentang agresi militer Israel di jalur Gaza yang belakangan disebut sebagai tindakan sistematis untuk upaya pembasmian etnis Palestina.

Berdasar data yang diserahkan negara Afrika Selatan (Afsel) ke Mahkamah Internasional (International Court Of Justice /ICJ), korban jiwa warga Gaza akibat serangan udara dan darat Israel mencapai 23.800 orang.

Hilangnya ribuan nyawa dibarengi dengan hancurnya sebagian besar infrastuktur kota Gaza, yang oleh komunitas Internasional disebut upaya Israel untuk mengusir orang Palestina dari negerinya sendiri.

Dikutip Anadolu Minggu (14/1) perwakilan Aljazair di PBB, Amar Bendjama menyebut bombardir tentara Zionis Isreal di Gaza sebagai tindakan biadab. Pasalnya, bom Israel menargetkan infrastruktur dan semua tanda tanda kehidupan di Gaza hingga kota tersebut tidak bisa dihuni.

“Sebuah aib bagi hati nurani umat manusia,” kata Bendjama pada pertemuan Dewan Keamanan (DK) PBB mengenai situasi kemanusiaan di Israel dan Wilayah Pendudukan Palestina, Minggu (14/1).

DK PBB menegaskan, warga Palestina di Jalur Gaza tidak dapat dipindahkan secara paksa. Pernyataan ini merespon rencana Israel untuk mengusir warga Palestina dari tanah mereka setelah kotanya dihancurkan oleh serangan bom.

Dalam pernyataannya, DK PBB menyebut warga Gaza harus dapat kembali ke rumah mereka.

“Selain itu, hal ini bertujuan untuk mematikan harapan untuk kembali ke rumah di hati dan pikiran warga Palestina untuk memfasilitasi dan menerapkan strategi mengusir warga Palestina ke luar tanah mereka,” ujar Bendjama.

Pernyataan Benjama melengkapi keterangan sejumlah negara terkait dukungan komunitas Internasional kepada Palestina setelah Afsel mengajukan gugatan ke Israel dengan tuduhan Genosida ke Mahkamah Internasional. Pengadilan dunia ini lantas menggelar sidang pada Kamis dan Jumat 11-12 Januari 2023.

DIluar sidang, puluhan ribu komunitas muslim di Amerika Serikat (AS) melakukan unjuk rasa mendesak AS ikut berperan menekan Israel untuk mengakhiri perang di Palestina atau gencatan senjata.

Unjuk rasa di Washington D.C itu digelar olen American Muslim Task Force on Palestine dan Koalisi Act Now to Stop War and Racism (ANSWER).

“Israel membunuh seseorang yang mencintai kehidupan, mencintai perdamaian, mencintai manusia, mencintai alam. Dan yang paling penting, dia mencintai cucu-cucunya,” Kata salah satu pengunjuk rasa keturunan Palestina – Amerika Adam.

Pria asal Gaza itu menjelaskan, cerita keluarga Palestina yang dibunuh sebagai kesaksian terjadinya genosida terhadap warga Palestina. “Presiden [AS Joe] Biden dapat dengan mudah menghentikan genosida ini,” lanjut dia.

Dan senada dengan Adam, Pria asal Michigan, Alaa Husein Ali menyatakan kehilangan 100 orang anggota keluarga termasuk 60 lebih anak anak selama militer Israel melakukan genosida di Gaza.

Pengunjuk rasa menyebut agresi militer di Gaza sebagai kegilaan Israel. Dan meminta Presiden Biden menghentikan serangan negara zionis di Gaza.

Tidak hanya di AS, unjuk rasa juga terjadi di kota Tel Aviv Israel menuntut Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mundur dari Jabatannya.

Dikutip CNN, unjuk rasa di Tel Aviv melibatkan puluhan ribu warga Israel disebut sebagai tindakan tidak biasa. Sebab unjuk rasa ini menutup jalan jalan utama di kota tersebut.

Selain minta Netanyahu mundur, pengunjuk rasa juga minta pemerintah melepaska sandra yang masih ditahan Hamas.

“Pengunjuk rasa yang menyerukan pembubaran Pemerintah Israel yang dipimpin Benjamin Netanyahu dan pembebasan sandera dari Gaza menutup Jalan Ayalon sebagai bagian dari aksi protes mereka,” bunyi lapaoran saluran TV swasta Channel 12, seperti dikutip Anadolu, Minggu (14/1)

Selain di Tel Aviv, unjuk rasa juga terjadi dikota Haifa. Demonstran menuntut Netanyahu mundur dari jabatan Perdana Menteri karena dianggal gagal mengendalikan perang di Gaza.

Apa yang belakangan dinyatakan Netanyahu menyikapi gugatan Afsel ke Mahkamah Internasional termasuk tekanan komunitas dunia dan warganya sendiri.

Politisi sayap kanan partai Likud ini menyatakan tidak ada yang bisa menghentika tindakan Israel untuk terus menyerang Gaza baik itu Mahkamah Internasional, atau kekuatan lain yang dia sebut sebagai poros kejahatan.

Atas gugatan Afsel ke Mahkamah Internasional, Nentanyahu bahkan menyebut tindakan Afsel sebagai perbuatan kurang ajar.

“Betapa kurang ajar. Dunia sedang terbalik,” kata Netanyahu mengumpat dalam konferensi pers, seperti dikutip laman resmi pemerintah Israel, Kamis (11/1). (**/SK)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *