Tragedi Cicalengka dan Elektrifikasi Commuter Line Bandung Raya

Pos Ekonomi53 Dilihat

OLEH : Djoko Setijowarno
Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Wakil Ketua Pemberdayaan dan Pengembangan Wilayah Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat.

PosCyber (Opini) – Tabrakan KA Turangga dan Commuter Line Bandung Raya pada Jumat, 5 Januari 2024 di Km 181+700 petak jalan antara Stasiun Haurpugur – Stasiun Cicalengka, Jawa Barat terjadi karena dijalur ini kereta api masih menggunakan Rel tunggal (single track). Dengan begitu, perjalanan kereta api dua arah harus berjalan bergantian.

Lintasan rel tunggal Cicalengka – Haurpugur tergolong ramai, dalam sehari ada 60 commuter line yang melintas selain 22 Kereta Api (KA) jarak jauh. Bahkan dimusim libur Natal dan Tahun Baru 2024 ada penambahan 4 perjalanan KA jarak jauh per hari.

Di tengah tingginya perjalanan KA di lokasi ini, sistem persinyalan di Stasiun Cicalengka dan Stasiun Haurpugur rupanya berbeda. Kalau sinyal di Stasiun Cicalengka masih menggunaan sinyal blok mekanik, di Stasiun Haurpugur menggunakan sinyal elektrik. Perbedaan model persinyalan ini otomatis membedakan cara pengoperasiannya. Makanya, Petugas Pengatur Perjalanan KA (PPKA) di dua stasiun itu harus memiliki keterampilan untuk mengoperasikan persinyalan yang berbeda untuk mengatur perjalanan KA.

Di jalur rel tunggal, sinyal menjadi penanda kereta boleh atau tidak boleh melintas. Boleh melintas setelah jalur tunggal dipastikan aman. Dan karena jalur tunggal akan digunakan bergantian untuk perjalanan kereta api dengan dua arah yang berbeda, PPKA harus memastikan jalur telah aman dilintasi KA yang mendapat jadwal pemberangkatan.

Keprihatinan kita menyikapi kejadian tabarakan KA di Jalur Cicalengka – Haurpugur, harus menjadi penegasan agar Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Perkeretaapian bisa secepatnya memperbaiki sistem transportasi KA agar menjadi alat transportasi massal yang aman dan nyaman.

Urgensinya harus menjadi prioritas sebab moda moda transportasi massal seperti KA menjadi harapan ribuan masyarakat yang aktif melakukan mobilitas untuk kegiatan sehari hari termasuk kegiatan kerja.

Dan saya bersyukur ada realisasi pembangunan untuk konsep penataan dan operasional KA termasuk Commuter Line terintegrasi diBandung Raya.

Data Balai Teknik Perkeretapian (BTP) Jawa Barat menyebutkan, Pembangunan jalur ganda (double track) tengah dikerjakan Balai Perkeretaapian Jawa Barat, Direktorat Jenderal Perkeretaapian, Kementerian Perhubungan dengan target rampung tahun 2024.

Pembangunan doble track adalah upaya peningkatan jumlah jalur kereta api di Kota Bandung dan Kabupaten Bandung. Proyek rel ganda itu membentang sejauh 23 kilometer dan terbagi ke dalam dua tahap. Tahap I terbentang mulai dari Gedebage-Cimekar-Rancaekek-Haurpugur sejauh 14 kilometer dan tahap II sepanjang 9 kilometer yang terbagi dua rute, yakni dari Kiaracondong-Gedebage dan Haurpugur-Cicalengka. Pengerjaan proyek ini dilakukan tahun jamak (multi year).

Rencana lainnya adalah penataan emplasemen, pengembangan stasiun, pembangunan sky bridge, sistem persinyalan dan telekomunikasi di 13 stasiun, yaitu Stasiun Padalarang, Stasiun Gadobangkong, Stasiun Cimahi, Stasiun Cimindi, Stasiun Andir, Stasiun Ciroyom, Stasiun Bandung, Stasiun Kiaracondong, Stasiun Gedebage, Stasiun Cimekar, Stasiun Rancaekek, Stasiun Haurpugur, dan Stasiun Cicalengka.

Selain itu dilakukan penanganan perlintasan sebidang Padalarang – Bandung di tiga lokasi, yakni JPL 150A Jl. Baru Munajan, Pusdikpom, JPL 154 Jl. Raya Cimindi, Cimindi dan JPL 157B Jl. Arjuna, Ciroyom. Pengerjaan rel ganda (double track) Padalarang – Bandung – Cicalengka upaya peningkatan kapasitas lintas sebagai persiapan pendukung rencana elektrifikasi jalur KA antara Padalarang – Cicalengka dengan menata emplasemen stasiun, pembangunan stasiun, sistem persinyalan dan telekomunikasi, serta penanganan perlintasan sebidang sebanyak 12 lokasi.

Untuk pembangunan rel ganda menggunakann jenis rel R-54 gradien maksimum 10 % radius minimum 800 meter dengan lebar 1.067 mm. Adapun Jembatan bentang lebih 10 meter sebanyak 12 unit dengan menggunakan metode konstruksi timbunan dan galian.

Target akhir dari pembangunan jalur KA terintegrasi ini adalah mempercepat waktu tempuh commuter line Bandung Raya yakni 35 menit dengan Hewadway Padalarang – Gadobangkong – Cimahi – Cimindi – Andir – Ciroyom – Bandung PP.

Disamping itu, untuk kereta Feeder, kereta cepat Whoosh Padalarang – Cimahi – Bandung melaju 90 km per jam dengan waktu tempuh 22 menit, Headway 20 menit dan waktu integrasi kereta cepat Whoosh – KA feeder kisaran 6 sampai 7 menit.

Integrasi antarmoda antara moda KA dan angkutan umum diperlukan untuk memberikan kemudahan bagi warga menggunakan angkutan umum. Terlebih layanan itu mendekati kawasan hunian akan mengalihkan penggunaan kendaraan pribadi ke angkutan umum. Mobil dan motor dapat disimpan di garasi dan mau beralih ke angkutan umum, supaya kemacetan perjalanan di Kota Bandung terkurangi.

Stasiun Padalarang, terdapat tiga trayek angkot (Padalarang – Rajamandala dan Padalarang – Leuwi Panjang dan Padalarang – Cimahi). Stasiun Gadobangkong, ada trayek angkot yang melalui Gedebangkong, yaitu lintas Cimahi – Padalarang. Stasiun Cimahi, terdapat 10 trayek angkot yang melalui Stasiun Cimahi.

Stasiun Cimindi, terdapat 4 trayek angkot yang melalui Stasiun Cimindi. Stasiun Andir, terdapat 1 trayek angkot yang melalui Kawasan Andir, jurusan Elang – Cicadas (Kebon Kelapa – Cicadas). Stasiun Ciroyom, terdapat 2 trayek angkot yang melalui Kawasan Ciroyom, yaitu Cimahi – St. Hall (Via Pasar Atas) dan Cimahi – St. Hall (Via Tagog).

Stasiun Kiaraconong, ada rute bus Damri yang melalui Stasiun Kiaracondong, yakni Cicaheum – Cibeureum dan Leuwi Panjang – Cibiru. Adapun angkot yang melalui Stasiun Kiaracondong, yaitu trayek Abdulmuis – Cicaheum via Binong, Cicaheum – Ciwastra – Derwati dan Cicaheum – Leuwipanjang. Stasiun Gedebage, dengan rute bus Damri yang melalui Stasiun Gedebage diantaranya trayek Cibiru – Cibeureum, Dipatiukur – Jatinangor dan Tanjung Sari – Kebon Kelapa. Sedangkan angkot yang melalui stasiun Gedebage adalah trayek St. Hall – Gedebage, Gedebage – Majalaya dan Gedebage – Elang.

Stasiun Cimekar, jalan akses menuju lokasi Stasiun Cimekar baru dekat dengan jalan besar, sehingga nantinya memudahkan untuk aksesibilitas penumpang ke angkutan umum. Bangunan baru Stasiun KA Cimekar – Masjid Agung Al Jabar berjarak 850 meter. Sedangkan dengan bangunan lama berjarak 1.150 meter.

Stasiun Cisalengka, jalur angkutan umum Cijapati – Cicalengka, Majalaya – Cicalengka, Nagreg – Cileunyi, Cicalengka – Limbangan, Cicalengka – Cinulang. Adapun angkot yang melalui Stasiun Cicalengka adalah angkot Cileunyi – Cicalengka.

Keselamatan dan kenyamanan menjadi dambaan penumpang angkutan umum, seperti moda kereta api. Percepatan elektrifikasi Commuter line Bandung Raya sangat dinanti untuk disegerakan. Peristiwa tabrakan KA di jalur ini menjadi pengingat semua pihak untuk meningkatkan manajemen keselamatan perkeretaapian di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *