Ribuan Usaha Bangkrut, Ekonomi Israel Anjlok Setelah Memerangi Hamas

PosCyber ( Timur Tengah) – Sampai bulan ini setidaknya 350.000 angkatan kerja Israel menarik diri dari rutinitas pekerjaan dan bergabung ke Pasukan Pertahanan Israel (Israel Defense Forces/ IDF) untuk memerangi Hamas. Kondisi ini mamaksa ribuan perusahaan di negara Zionis ini tidak bergerak, bangkrut dan tutup usaha.

Akibatnya, ekonomi Israel yang semula bernilai US$ 488 miliar (Rp 7.547 triliun) dilaporkan kontraksi. Melemahnya perekomian Israel semakin parah setelah muncul aksi boikot terhadap bisnis dan produk industri negara tersebut.

Dikutip Internastional Business Times, Minggu (24/12), dampak konflik Hamas-Israel membuat seluruh sektor mengalami krisis. Konstruksi dan jasa makanan merupakan salah satu industri yang paling terkena dampaknya.

Dari 1.680 bisnis Israel yang disurvei, lebih 70% melaporkan mengalami penurunan pendapatan 70%. Dunia usaha terancam bangkrut dengan skala yanv serupa dengan dampak pandemi Covid-19 .

Analisis data menunjukkan ratusan bisnis pada dasarnya telah bangkrut, karena pekerja penuh waktu juga terpaksa berlindung dan direlokasi ke berbagai wilayah di Israel. Tercatat sekitar 11% bisnis Israel kehilangan lebih 21% pekerjanya karena IDF

Sementar kalau tentara cadangan yang memilih untuk menukar pekerjaan mereka dengan militer, berjumlah 350.000,itu sama dengan 8% dari seluruh angkatan kerja Israel.

Saat ini permintaan pelanggan juga menurun drastis, sehingga organisasi dan perusahaan besar tidak punya pilihan selain tutup.

Menurut pernyataan yang diterbitkan Biro Pusat Statistik negara itu bulan lalu, sekitar setengah dari bisnis di Israel melaporkan penurunan keuntungan signifikan di tengah perang Israel dengan Hamas.

Untuk mengatasi tekanan keuangan pada perekonomian, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah berjanji untuk membentuk “perekonomian di bawah senjata”.

“Panduan saya jelas, kami membuka keran, menyalurkan uang kepada semua orang yang membutuhkannya,” kata Netanyahu dalam sebuah pernyataan yang bertujuan meyakinkan perusahaan-perusahaan Israel dengan bantuan tunai.

“Selama dekade terakhir kita membangun perekonomian kuat dan berapa pun dampak ekonomi yang ditimbulkan oleh perang ini, kita akan membayarnya tanpa ragu-ragu,” tambah dia.

Meski beberapa pemimpin perusahaan menyambut baik bantuan bisnis dari pemerintah, tetapi kriteria kelayakannya dikritik karena terlalu ketat.

Atlas Hotels Israel baru-baru ini mengirimkan email kepada pelanggannya dengan tujuan mencari simpati. Email tersebut berisi meminta konsumen setia memberikan donasi untuk menyelamatkan bisnis dari kehancuran.

Atlas Hotels telah membuka 16 hotel mewahnya untuk 1.000 pengungsi Israel yang meninggalkan wilayah selatan Israel setelah penangkapan warga sipil Israel oleh Hamas . (**/SK)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *